Friday, 24 May 2013

[Oneshoot] "MY GIRL"



“MY GIRL” 



Cast                :                       Kim Jong Dae a.k.a Chen
                                                            Yoo Ah Ra a.k.a Ahra
 

Subcast            :                       Byun Baek Hyun a.k.a Baekhyun
                                                            Xi Lu Han a.k.a Luhan
                                                Shin Yoon Jo a.k.a Yoonjo
                                                            Kim Joon Myeon a.k.a Suho
                                                 Park Yu Ra a.k.a Yura


Genre              :                       G




------------------------------------------------------------------------------------




-Chen  pov-



Hai. Erhm. Hai. Aduh kurang. Hai. Otte suaraku sudah terdengar gentleman?

Pasti~

Haiiiiii!! Annyeong! Ada yang mau kenalan denganku? Acungkan jari kalian! Huaaa 98.799.646.439.327 orang di bumi mengacungkan jari. Belum lagi aku harus menghitung makhluk lain selain manusia. Atau penduduk planet-planet lain. Tak bisa dibayangkan begitu antusiasnya mereka. kkk~ oke cukup. Tanpa diminta pasti aku akan memperkenalkan diri. Perkenalkan aku namja ya(?) Chen imnida. Tepatnya namja tertampan sekota Seoul. Ani. Bukan tampan, tapi sangat tampan. Ah, apa ya kata yang cocok untuk mewakilkan parasku ini. Bisa dibayangkan kan seperti apa ketampananku.

Kalian mau menanyakan apa tentangku? Umur? Menginjak 21 tahun! Keunggulanku dibanding namja lain? Ya tentu aku tampan, kaya, pintar. Apalagi? Tapi jangan tanyakan soal yeojachingu. Sampai saat ini tak ada yeoja yang menarik perhatianku. Bukan aku tak laku. Tapi aku gak mau salah pilih. Gak mau deh coba-coba. XD

Statusku yang single bukan berarti itu artinya aku mau melajang seumur hidup dan bermalas-malasan masalah jodoh, atau mengharapkan sang belahan jiwa itu yang menghampiriku duluan. Kalau gitu caranya sampai tuapun  tidak akan ketemu. Sebenarnya aku sudah berusaha mencari kemana-mana yeoja yang di takdirkan bersamaku. Yeoja yang sangat beruntung bisa mendapatku. Tapi ya nihil.

Bahkan namja yang terbilang aneh di universitasku alias Luhan berkali-kali membawaku ke para peramal. Heyy! Jaman sekarang percaya ramalan? Aigoo serasa aku tak laku-laku. Aku sih gak terlalu memusingkan hal ini. Aku hargai usaha mereka.

Pagi ini aku malas-malasan berangkat kuliah. Sebenarnya sih kelas dimulai jam 10, tapi aku saja baru bangun jam 11. Waah benar-benar cari mati. Eh, tapi jangan mati dulu dong. Aku belum menikah nih! Kulangkahkan langkahku menuju pintu gerbang universitas Myongji. Eh ada yeoja di sana. Siapa ya? Ah, aku kan tak mengenalnya.

“yah, kok tumben pintunya sudah ditutup...” basa-basi dikit. Cuma untuk menarik perhatian yeoja itu. Hey, tapi… Kenapa tak ada reaksi? Ku senderkan tubuhku di tembok gerbang. Memasukkan tanganku ke saku celana. Cuacanya dingin, tapi tujuan ku memasukkan tangan ke saku bukan karena dingin. Supaya dia terpana. Aiss, tunggu saja beberapa saat lagi.

1detik. 2detik. 3detik… 10 detik. Aku jengah dibuatnya. Dia itu tuli, buta, polos atau apasih? Tidak liat ada namja tampan berbicara di depannya eoh?

“hey, mianhaeyo… boleh geser sedikit? Aku mau ikut duduk” ucapku permisi. Menunjuk bangku taman yang ditaruh di pos keamanan gerbang tempat dimana yeoja itu duduk. Dia diam sebentar. Lalu menatapku. Yes. Ayo katakan kalau dia terpesona.

“kau…” aku menunggu kata-kata yang selanjutnya ingin dia katakan. Aku langsung memasang senyum termanisku.

“kau cerewet sekali! Suara cemprengmu itu membuat telingaku sakit pabbo!” dia berdiri. lalu melangkah sebal meninggalkanku. MWO? Apa dia bilang? Suaraku cempreng? Andwae, aku kehilangan reputasiku. Eomma aku malu..




**



Aku duduk di kap mobil bersama Baekhyun. Sesekali aku meminum minuman soda kaleng yang tinggal tersisa dikit. Aku jadi penasaran dengan yeoja tadi. Baru kali ini aku merasa dipermalukan seorang yeoja. Itu tidak lucu! Ku lirik sekilas Baekhyun, yang kerjakannya tiap hari hanya memacari si PSP tercintanya itu. Dia pun sama denganku, sama-sama belum mempunyai yeoja chingu. Jadi aku masih bernapas lega, setidaknya aku bukan satu-satunya namja yang tidak mempunyai yeojachingu.

Dari kejauhan, ku lihat Luhan berlari kecil ke arahku dengan gaya slow motion. Melambaikan tangan. Diiringi daun-daun yang jatuh dimusim gugur. Idih~

Sesampainya di depanku dan Baekhyun. Dia langsung cengengesan tak jelas lalu menyambar minuman kaleng yang ku pegang.

 “berlebihan!”

“mengahayati peran!” ucapnya asal lalu meneguk minuman kalengku. Dia mendelik ke arahku.

“kok habis? Payah kau Chen! Minuman habis dipegangi terus!” idih, siapa yang payah kalau gini caranya? Dia kan? Dasar aneh.

“Chen. Aku punya berita bagus untukmu” aku menoleh malas ke arahnya. Dia merapikan poninya lalu kembali berucap,
“aku ada calon yeojachingu untukmu. Kalau dibandingkan aktris Hollywood sih menurutku tidak ada apa-apanya sama yeoja itu. Menggairahkan! cocok untukmu” mwo? Menggairahkan? Serius nih?

“jin…”

“nuguya?” Baekhyun memotong pembicaraanku. Aku dan Baekhyun langsung menatap Luhan yang sedang memasang tampang misterius.

“mau tau ya?” kami berdua mengangguk. Dia terkekeh lalu menggeleng, “aku tidak tau namanya”


GUBRAK!


Langsung aku sambar PSP yang ada di tangan Baekhyun untuk menggeplak kepala Luhan, tapi buru-buru kuurungkan niatku saat ku lihat tanduk iblis Baekhyun itu seperti akan keluar dari kepalanya saat ku rampas paksa PSP miliknya.

“hehe, mian” ucapku sambil nyengir garing.

“tapi yang ku tau, dia teman dekat Suho. Jadi kau tak terlalu sulit kalau ingin mendapatkannya” aku mengangguk. Ih. Kok jadi antusias gini sih?



-Chen pov end-




**




-Ahra pov-



Baru pindah seminggu ke Seoul saja bisa membuatku mati muda kalau gini caranya. Aku memang baru pindah dari Beijing ke Seoul. Awalnya penilaianku tentang Seoul itu, indah, damai, tentram, tapi… semua kacau karena sudah beberapa hari ini aku bertemu dengan namja itu.

Namja yang tidak aku kenal. Cih. Aku memang tak mau mengenalnya. Ini pertemuan ke tiga ku dengannya. Pertemuan yang tidak bisa kuhindari. Kami sama-sama terkunci di ruang music. Aku memang sering ke tempat ini untuk sekedar melepas penat tapi sebelumnya aku tak pernah melihatnya. Ya saat aku bertemu dengannya di ruangan ini, dengan ya… keadaan terkunci.

Merasa diperhatikan, aku menoleh ke arahnya.
“apa kau lihat-lihat?”
“eh? Aku? Melihatmu? Ani!”

Ah terserah apa kata dia sajalah. Suka-suka hati dia.
Kini sudah 30 menit aku terkunci dengannya dalam keadaan ruangan gelap. Memungkinkan sekali untuk namja itu melakukan hal aneh padaku. Bukan apa-apa, tapi jaga-jaga kan perlu.

“ah, ayolah ada orang yang menemukan ku. Jebal!” aku berbisik pelan sambil berharap ada orang yang menemukanku. Ah, kenapa namja itu diam saja? Tak bisakah dia berusaha membuka pintu ini? Ini terlalu lelah dengan stok oksigen yang menipis.

“kenapa kau diam saja?” ucapku ketus. Ku dengar hentakan langkah mendekatiku.

“oh.. mau mu, aku melakukan sesuatu padamu?”
Aiss. Pikiran kotor dari mana itu? Ku geplak saja kepalanya itu.

“tak bisakah kau membalikan ucapanku?” dia memiringkan kepalanya acuh.

“ani.” Ih. Mau ku habisi dia itu? Biarpun aku yeoja tapi jangan salahkan aku jika keluar dari ruangan ini dia dalam keadaan kritis. Mengerikan bukan?

“pabbo!”
“memang”
“jelek”
“kau lebih!”
“kau berisik. Kau cerewet!”
“kau terlihat manis ketika marah seperti itu”


BLUSH


Pipiku memanas. Dia tersenyum geli. Aih. Berani menggodaku? Dia belum mengenal Yoo Ahra rupanya. Dia merogoh tasnya. Lalu mengeluarkan sesuatu.

“ah, ya. Aku baru ingat kalau aku punya kunci cadangan” HAH? Masih sempat dia mengeluarkan lelucon macam itu? Aigoooo! Hampir saja aku mati di tempat ini. Aaahhh, aku kehilangan waktu berhargaku hanya untuk terkunci selama 30 menit dengannya? Ku tatap dia dengan death glareku. Ah, wajah sok tak berdosa itu membuatku muak.




**




“Bambiara! Heenim sonsaengnim memanggil kita!” aku mengerutkan keningku, menatap Yoonjo yang berdiri berhadapan denganku. Yeoja mungil ini menarik tanganku. Dia sepertinya tak sabaran untuk segera menemui Heenim sonsaengnim. Aku sih malas. Jelas saja, kerjaan iblis betina itu hanya marah-marah. Aih. Aku masih sayang telingaku deh.

Sesampainya di ruangannya, kami mengetuk pintu pelan lalu masuk.
“annyeong sonsaengnim,” aku membungkuk dan Yoonjo juga melakukan hal sama denganku. Heenim sonsaengnim terus memamerkan senyumnya pada kami lalu mempersilahkan kami duduk.

“ada apa Heenim sonsaengnim memanggil kami?” Tanya Yoonjo lembut. Heenim sonsaengnim pun mulai menjelaskan maksudnya.

“jadi, Ahra-sshi, kau akan berpasangan dengan Kim Jong Dae. Dan kau Yoonjo-sshi, kau dengan Xi Luhan. Arra?”

Yoonjo mengangguk mengerti. Aku? Ah jangan Tanya. Satu pun ocehannya tak ada yang ku dengarkan. Kuanggukan saja kepalaku sesuka ku tentunya.

Chen. Ah yang mana ya namja itu?. Semoga bisa jadi partner yang menyenangkan. Berhubung aku mahasiswa baru di universitas ini jadi aku tak bisa mengenali satu-per satu nama orang-orang di sini. Ah masalah gampang. Nanti juga ketemu!



-Ahra pov end-




**




-Chen pov-



Aku senang menggodanya seperti itu. Dia itu yeoja yang berbeda dari setiap yeoja yang ku kenal. Aneh sih, yeoja itu lebih dominan dengan sifat galak, cerewet, dingin. Tak pernah sekalipun aku melihatnya tersenyum atau tertawa, atau mungkin dia tak pernah diajari bagaimana cara tertawa.. tersenyum. Aish, tapi seperti itu saja sudah terlihat manis.

Menurut Luhan, aku memang benar-benar tertarik dengannya. Dan menurut Baekhyun, aku gila sudah menyukai yeoja seperti dia. Aku jadi bingung, aku saja belum bisa memastikan perasaan ini. Biarlah waktu sajalah yang menjawab dududu~ plak!

Aku menatap tak percaya yeoja yang berdiri shock di depanku. Ah memangnya aku setan dipandangi seperti itu. Mana ada setan semanis diriku..

“sebenarnya siapa sih yang kau cari?” aku sedikit berdecak kesal.

“Kim Jong Dae”

“aih. Kau tak percaya? Itu namaku!”

“aniya. Memangnya kau punya nama?”

“ah. Terserah apa katamu saja. Ada apa mencariku?”

“ih. Siapa yang mencarimu. Lebih baik aku menemui Heechul sonsaengnim untuk memastikan hal ini” dia berbalik meninggalkanku. Ih keras kepala sekali dia itu.

.
.
.

“MWO? Ja…jadi kita menjadi pasangan saat pesta kebun nanti?”
 
“ne,”

“baiklah. Kau beruntung berpasangan denganku! Ahya, siapa namamu?”

“Ahra”

“aku, Kim Jong Dae. Panggil saja Chen” ucapku sambil tersenyum lembut ke arahnya.

“aku tak bertanya”

Aiss. Kalau bukan yeoja sudah ku maki dia ini. Tak bisakah dia yang memulai pembicaraan? Menjawabpun hanya seperlunya-sepatah dua patah kata. Seusai dia memberitahukan hal tadi, dia langsung melesat begitu saja tanpa pamit padaku. Benar-benar mengesankan!



 -Chen pov end-




**




-Author pov-



Ahra duduk di sudut ruang perpustakaan sambil menatap serius ke arah buku. Sebenarnya ia tak begitu menyukai jika harus menghabiskan waktu hanya untuk membaca. Itu membosankan! Lebih membosankan dari pelajaran Heenim sonsaengnim yang menjelaskan beberapa rumus kimia yang malah membuat otaknya ingin meledak.

Sebenarnya yeoja itu ingin segera bangkit. Meninggalkan tempat ini lalu beralih ke ruang music, atau kantin. Tempat yang jauh lebih menyenangkan. Tapi demi menghindar dari namja aneh itu. Mau apa lagi.

Namja itu benar-benar mengganggunya. Kapanpun tanpa diminta, pasti namja itu akan selalu datang untuk menggoda. Dan itu terasa risih. Jam dinding yang berdetikpun dapat terdengar kencang di telinga Ahra. Membosankan gerutunya.

Sibuk bergulat dengan buku di hadapannya, ia tak menyadari pintu terbuka. Sosok yeoja imut memenuhi pandangannya. Ahra menoleh, di tatapnya Yoonjo yang berdiri di samping pintu.

“Bambiara. Ikutlah denganku! Kau belum mencoba pakaian yang akan digunakan di pesta kebun! Heenim sonsaengnim menyuruhku!” Yoonjo sedikit berbisik agar tak membuat keributan di sana. Ahra menghela napas lalu menutup bukunya. “ne” yeoja itu membututi Yoonjo yang sudah berjalan dahulu di depannya.




**




Ahra menatap geli pada dirinya sendiri. Apa-apaan ini? Kenapa ia tak diberi tahu sebelumnya jika tema pesta kebun nanti itu bernuansa kerajaan. Pangeran-Putri.

“aegyoo! Neomu yeppeo Ahra. Pasti Chen semakin menyukaimu!” Yoonjo memutar tubuh Ahra sambil memandang takjub. Ahra mendelikkan satu alisnya.

“ah. Berhenti menggodaku Yoonjo! Aku tak mau menyukainya!”

“mi…mian. Aku tak bermaksud..”

“ayo ikut aku, pasti semua terpukau melihatmu. Ah, aku jadi tak sabar segera pergi ke pesta kebun itu”

Yoonjo lagi-lagi menarik tangan Ahra begitu saja lalu membawanya ke luar ruang ganti. Di sana sudah ada Yura, Luhan dan Chen yang menunggu mereka. pandangan Ahra tertumbuk pada Chen dan Yura. Mereka..

“oppa. Berikan saran untuk Ahra. Dia cantik kan oppa?” Yoonjo beringsut mendekati Luhan yang berdiri tak jauh darinya. Luhan hanya mengangguk sekali.

“ah. Apanya yang cantik. Itu terlihat payah! Dia tak terlihat menarik. Payah!” Chen menyamar pembicaraan. Ahra hanya memasang tampang dingin. Melepaskan gaun yang dia pakai lalu membuangnya begitu saja. *ceritanya pakaiannya double loh. Jangan yadong-_-*

“memang payah!” ucapnya ketus lalu pergi. Meninggalkan ruangan itu. Semua pandangan tertuju pada Chen.

“oppa..” Yoonjo menatap Chen sebantar lalu mengejar Ahra.

“kau keterlaluan Chen!” Luhan menepuk pundak Chen lalu menyusul Yoonjo.

“Oppa, sebaiknya kau temui Ahra eonni”  Yura berucap sambil menunduk, Chen melirik sekilas lalu mengangguk. “gomawo Yura!” mengacak puncak rambut Yura lalu meninggalkannya.



-Author pov end-




**




-Ahra pov-



Aih. Aku bingung. Kenapa aku jadi seemosi tadi? Seharusnya aku tak bersikap seaneh itu. Aish. Di saat seperti ini aku lebih baik ke ruang music. Ah, setidaknya aku lebih merasa baik nanti. Kejadian tadi membuatku kesal.


KRIET


Ku buka pintu ruangan itu perlahan. Hey ada dentingan tuts piano yang mengundang pendengaranku. Nuguya? Ini begitu lembut. Hamonisasi yang indah.

“annyeong. Sejak kapan kau berdiri di sana?” eh? Dia berbicara denganku. Yak! Namja itu kini tersenyum lembut ke arahku. Entahlah, aku sedang tak ingin bersikap dingin pada semua namja. Apa salahnya aku menjawab pertanyaannya.

“ah, ani. Hanya terpukau. Permainanmu sungguh hebat!” baiklah. Aku memang kagum padanya. Ini kukatakan jujur! Dia terkekeh pelan sambil bersender di sisi piano.

“kau mahasiswi baru?” Tanya namja itu, aku hanya mengagguk.

“ne, aku pindahan dari Beijing.”

Dia menangguk lalu melanjutkan ucapannya, “Beijing? Aku juga berasal dari Beijing,”

“jinja? Eumm… tapi aku bukan warga asli sana sunbae,” ah. Ku panggil saja dia sunbae, memang sepertinya dia terpaut usia lebih tua di atasku.

“ah. Jangan panggil aku seformal itu. Aku Suho. Panggil saja oppa!” jelasnya.

Aku dan dia lalu bertukar nomor selfon setelah itu bercerita banyak tentang diri kami masing-masing, bagaimana aku bisa menetap di Beijing sementara. Tentang music. Tarian. Dan universitas ini. Dia menyukai tari modern. Dan itu sama sepertiku. Masih banyak lagi kesamaan Suho sunbae denganku. Ku harap dia namja yang menyenangkan.



-Ahra pov end-




**




-Chen pov-



Ah. Sebenarnya pa salahku pada Ahra? Kenapa semua menyalahkanku? Aish. Aku masih tak mengerti. Memangnya aku sangat keterlaluan menggodanya? Percayalah~ aku hanya bercanda! Bukankah biasanya ia tak semarah itu? Pandangan matanya berbeda saat menatapku. Itu membuatku aneh.

Ku tatap selfonku frustasi. Aih. Baru kali ini aku merasa gugup saat ingin menghubungi yeoja. Tapi yeoja yang ingin ku hubungi ini bukan yeoja biasa. Baiklah Chen. Semua baik-baik saja.

Terdengar sambungan. Tapi belum juga diangkat. Akhirnya suara operator merusak telingaku. Ah. Tak diangkat. Ku tekan lagi tombol hijau untuk mengulang sambungan. Dan hasilnya juga sama. Tak diangkat! Ah, apa dia benar-benar terusik? Lebih baik ku coba sekali lagi.

Belum ada beberapa detik sambungan tehubung ku dengar suara di seberang menyapa

“yeoboseyo… nuguya?” terdengar lembut. Sangat lembut. Jantungku berpacu cepat.

“Ahra-sshi?” akhir bertanya hati-hati. Baiklah ku gunakan bahasa sebaik mungkin jangan sampai ucapanku menyakitinya lagi.

“ne. kau tuli? Ku Tanya kau siapa?”

“Chen…”

“eh? Kau! Waeyo? Kenapa menghubungi ku? Tak tau kalau ini sudah malam! kau menggangguku! Cepat aku tak punya banyak waktu. Atau kau ingin masih meledekku? Ayo cepat katakan apa tujuanmu menghubungiku malam-malam. belum puas kau soal tadi siang? kau tau? Kau tak punya hati!” ucapnya panjang dan itu membuatku ragu berbicara.

“mian, Ahra.. aku…”

“ah, suka-sukamu saja. Aku tak perduli! Annyeongi jumuseyo Chen-sshi!”

Aku tau dia sakit hati karena ucapanku. Aku tau salah. Ah ayolah. Ini tak ada maksud lebih.




-Chen pov end-




**




-Ahra pov-



Sebenarnya aku mau memaafkannya si namja menyebalkan itu tapi kenapa aku malas. Kalau bicara dengannya, bawaannya selalu sewot. Ah aura namja itu memang tak mengenakkan untukku.
Terbesit rasa penasaran menyelimuti pikiranku. Sebenarnya apa maksud dia yang selalu menggodaku. Apa benar dia menyukaiku? Atau hanya akal-akalan dia saja yang ingin membuatku malu. Cih, aku bisa membuatmu lebih malu dari yang kau lakukan padaku Chen!

Ku taruh selfon berwarna pastel ke dalam tas. Baru saja si namja aneh itu mengirimi ku pesan agar aku memaafkannya. Sudah 3 hari semejak dia menelfonku malam-malam, aku masih belum mau memaafkannya.  Ya tidak semudah itu. Pesta kebun tinggal beberapa hari. Dan aku harus berpasangan dengannya. Ahh. Menyebalkan. Kenapa dewi fortuna tidak memihak padaku kali ini.

“aku tau kau pasti ada di sini makanya ku susul kau kemari” eh? Dia itu? Persis hantu saja, baru beberapa menit yang lalu mengirimi pesan sekarang sudah berdiri beberapa meter dari tempatku.

“mau apa kau?” kataku ketus, ah masa bodoh ucapanku sopan atau tidak. Memang aku perduli. Dia saja tak memperhatikan perasaanku ketika dia menggodaku. Kata-katanya tidak pernah ada yang benar.

“meminta maaf padamu”

“kau… memang kau punya salah denganku eoh?” aku tersenyum sinis tanpa menatapnya. Memang kau saja yang bisa membuatku tak nyaman. Aku juga bisa membuatmu jauh lebih tak nyaman.

“sepertinya..”

“ngh, kau saja tidak tau apa salahmu. Buat apa meminta maaf? Apa kau tak apa-apa?”

“aku tau aku salah, makanya aku meminta maaf padamu. Memangnya ada apa denganku? Ini ku lakukan tulus bukan karena aku ingin mati besok pabbo” ucapnya kesal. Ah, aku tak merasa sedikitpun menyesal dengan perbuatanku. Memang dia pantas mendapatkan ganjaran.

Kami tak sadar jika Suho sunbae berdiri tak jauh dengan kami. Aku menoleh ke arahnya yang berdiri kikuk. Lalu sesaat dia menyunggingkan senyumnya. Dengan langkah tenang dia mendekati kami lalu mengacak puncak kepalaku. Akhir-akhir ini memang aku dan Suho sunbae dekat. Tapi ya hanya untuk mengobrol ringan atau membicarakan tugas.

“mian, aku mengganggu kalian”

“ani oppa. Kau kemari malah membuat suasana tak membosankan”

“apa maksudmu?” ucap Chen protes. Mudah sekali membuat emosi dia tersulut. Aku hanya memasang senyum meremehkanku. Biarkan saja, biar suasana makin sengit.

Chen lalu melangkah kesal meninggalkan aku dan Suho sunbae. Yes! Dia kesal padaku. Terlalu mudah.




**




Ku tutup bukuku emosi. Hanya perasaanku saja atau memang Chen saja yang tak tahan jauh-jauh dariku sih? Namja ini sedari tadi mengoceh tak jelas membuat telingaku pengang. Uh. Mau ku sumpal mulutnya itu?

“bisakah kau diam sebentar saja? Ku mohon! Kali ini aku tak akan melarangmu menggodaku asal kau diam!”

“eh? Kenapa kau menginginkanku menggodamu?” aisss. Boleh ku layangkan tinjuku ke arah wajahnya?
“suka-sukamu sajalah”

“kalau suka-sukaku, kau harus memaafkanku!” Ck! Oke baiklah. Ku anggukan kepalaku lalu melanjutkan membaca.

“apa ini masih suka-suka aku? Kalau begitu kau harus pergi denganku nanti sore. Otte?”

“ani,”

“sekali ini saja…” ku lihat dia dengan wajah memohon mengatupkan kedua tangannya.

“tidak mau,”

“Bambiara…” aih, apa-apaan dia memanggilku dengan nama itu. Hanya orang yang ku sayang saja yang boleh memanggilku seperti itu.

“kenapa tidak kau cari saja yeoja yang mau pergi denganmu”

“kau bukan yeoja?” tuhkan, mulai -_-

Hening. Kami saling terdiam. Dia menyentuh tanganku lalu menggengamnya. Ingin aku lepaskan tapi sulit. Terlalu kaku.

“apa kau tau? Baru kali ini aku menemukan yeoja sepertimu.” Aku tak mendengarnya lalala aku ingin begini aku ingin begitu lalala~

Menghela napas berat lalu melanjutkan ucapannya “kau tau mungkin aku sering menggodamu. Tapi apa kau pernah berpikir, itu karena hanya kau yang menarik perhatianku. Aku ingin kau hanya melihat ke arahku dengan caraku. Aku mencintaimu dengan caraku. Sederhana. Ku mohon, untuk permohonan maafku”

Lalala aku sayang sekali doraemon....

Eh? Apa ini? Gombalan picisan dari seorang Kim Jong Dae? Ah, aku takkan termakan ucapanmu itu. Aku tau kau ingin membuatku melambung dengan rasa itu lalu… nanti aku akan kau buat malu. Itu pasti menyakitkan. Dan aku tak mau dalam posisi itu.

“tidak. Apa perlu ku katakan seribu kali untuk membuatmu sadar? Kau itu mengganguku. Aku risih dengan sikapmu! Dan terakhir, aku tak mau pergi denganmu!”

“apa sedikitpun kau tak menyukaiku?”

Aku diam. Entahlah, dia terlihat seperti bersungguh-sungguh.

Dia melepaskan genggamannya lalu tersenyum ke arahku sambil mengacak puncak kepalaku.
“ baiklah, aku janji takkan lagi mengganggumu. Maaf jika perasaanku mengusikmu. Mian.” Aku diam. Kakiku terasa lemas. Apa itu sebuah ucapan selamat tinggal darinya? Aku seperti kehilangan dia. Sial rasa apa ini?




-Ahra pov end-




**




-Chen pov-




Aku menjauh darinya. Sudah beberapa hari ini. Ini akan membuatnya jauh lebih baik. Seharusnya aku sadar. Aku keterlaluan sampai membuatnya sebegitu membenciku. Aku memang salah menganggunya seperti itu. Aku memang kalah. Dan aku harus mengakuinya.

Besok pesta kebun. Dan aku harus menolak permintaan Heenim sonsaengnim yang memintaku dan Ahra untuk berpasangan. Aku tak mungkin berpasangan dengannya kalau suasana seperti ini. Hubungan kami memang tak terjadi apa-apa tapi entahlah, aku tak sedang ingin bertatap dengannya. Itu akan membuatku sulit merelakannya. Bambiara, hoobae yang ku suka.

Ku tarik Yura untuk menemaniku menemui Heenim sonsaengnim. Memang agak ragu. Ah apa yang kau pikirkan Chen! Ini kan keputusanmu.

Heenim sonsaengnim menatapku kaget,

“kenapa kau menolak Chen-sshi?”

“gwaenchana sonsaengnim, hanya masalah kecil”

“lalu siapa yang akan menggantikanmu?”

Bodoh! Kenapa kau tidak memikirkan ini? Eh, tapi Suho hyung kan sedang dekat dengan Ahra.

“eumm.. otte jika Suho sunbae menggantikanku?”

“kau yakin?” aku mengangguk mantap.

“baiklah, aku akan memberitahu mereka berdua”
.
.
.
“hey  kenapa kau membatalkannya?” Yura menggeliat melepaskan genggamanku. Aku hentikan langkahku, lalu berbalik menatapnya.

“kenapa kau membatalkannya sepihak? Kalau Ahra eonni marah padamu bagaimana opaa?” bagus, itu akan membuatnya semakin membenciku. Membuatku jauh lebih mudah melupakannya.

“kau tidak memperhatikan perasaannya oppa, bagaimanapun aku dan dia sama-sama seorang yeoja. Aku bisa merasakan apa yang dia rasakan oppa” aku tau. Aku paham. Tapi… ini jalan terbaik.

Aku tatap yeoja manis di hadapanku yang sedang menunduk. Ku dekap tubuhnya. Maafkan ku Yurauntuk sementara ini kau ku jadikan pelampiasan.

“aku bingung Yura,” aku menghela napas.

“aku tau oppa menyukainya, jadi jangan sia-siakan dia oppa.”

Aigoo. Maafkan aku Tuhan telah menyakiti dua orang yeoja. Yura dan Ahra. Aku memang pernah menolak pernyataan cinta Yura. Lama sebelum aku bertemu Ahra. Dan kini, aku memang terlihat sebagai namja pecundang. Ya aku seorang pencundang yang tereksekusi.




-Chen pov end-




**
 


-Author pov-



Entah sejak kapan, pemandangan menyesakkan itu memenuhi pandangan Ahra. Buru-buru ia berlari meninggalkan tempat terkutuk itu. Berkali-kali ia mengumpat dalam hati. Mengumpati namja sialan itu. Kim Jong Dae.

Mungkin munafik untuk tidak mengakui perasaan itu. terlalu cepat untuk mengakui keberadaan rasa aneh itu. jujurlah, namja itu berhasil menarik perhatiannya.

Ahra berlari sambil menunduk. Ia tak memperhatikan jalan di depannya. Saat ia menabrak Suho pun ia tak menggubrisnya. Sebenarnya ia mencari keberadaan Chen untuk menanyakan soal Pesta Kebun. Sesaat setelah Heenim sonsaengnim memberitahu dirinya. Tujuan awal, ia ingin memarahi namja aneh itu. tapi… hal lain yang ia dapat. Dan bodoh jika Ahra mau saja di suruh menonton adegan yang mereka suguhkan.



**



“Bambiara! Kau sangat cantik! Apalagi Suho sunbae juga terlihat tampan!” Ahra tersenyum kearah Yoonjo. Acara pasta kebun selesai. Tak ada yang menarik! menyebalkan. Ini menyakitkan. Seharusnya bukan seperti ini…

Ia pandangi satu-satu sosok di depannya yang kini mengerubunginya. Suho. Namja itu tersenyum tulus. Di alihkannya ke arah Yoonjo. Luhan. Bekhyun. Yura. Yeoja itu cantik... Tak seperti dirinya. Terakhir, pandangan yang menyesakkan. Chen.. ia juga tersenyum sangat manis. Ahra membalas senyuman itu. manis. Bahkan jauh lebih manis. bibir itu terlihat jelas membuat lengkungan ke atas. Mata yang sedikit membentuk sabit memandang lama namja di depannya. Bolehkah Ahra memeluk namja itu? saat ingin berjalan ke arah Chen, Ahra  merasakan pandangannya yang agak buram. Limbung.

“Ahra!” mereka berpekik kaget saat Ahra ambruk. Chen yang juga menyadarinya langsung membopongnya.

“aigoo. Baru kali ini ku lihat si ikan seromantis itu!” Baekhyun berucap asal. Semua mendelik ke arahnya.

“itu namanya kekuatan C-I-N-T-A!” jawab Luhan menambahi. *ngomongnya pake aksen nada lagu C.I.N.T.A nya d’Bagindas* XD kkk~

“Oppa..!” Yoonjo memukul keras lengan Luhan.

“hehe, mian chagi!”




**




ENDING!

*tendang author*
*jedotin*
*dudukin author ke depan laptop*

Readers: apa-apaan ini gantung gini! Cepat selesaikan~
Author: *ngetik lagi*



**



“kenapa kau bisa pingsan? Kau belum makan?” Chen menyerahkan kotak makanan ke pangkuan Ahra yang sudah tersadar.

“apa pedulimu?”

“kau masih tak mengerti jawabannya?”

“apa sebenarnya maumu?”

“dirimu!”

“yeoja itu cantik. Kau pantas dengannya apa dia yeojachingumu?”

“ani. kenapa berbicara seperti itu?”


Ahra diam. Lalu memutar bola matanya malas.
“kau cemburu padaku eoh?” Chen tersenyum menatap Ahrak. Ani. Bukan tersenyum. Lebih tepatnya menyeringai lebar selebar badan Shindong oppa *bayangin kaya gitu* -_-

“ih. Untuk apa aku cemburu memangnya aku siapamu?”

“kekasihku. Kau kan yeojachinguku!”

“cih! Seenaknya saja mengklaim!”

“bercanda. Mian”

Chen terkekeh sambil menarik kursi yang tak jauh dari ranjang Ahra. Duduk di sana lalu diam.
“Oppa..” Ahra menyebutkan kata ajaib itu, yang tanpa di sadar meluncur begitu saja dari bibirnya. Chen menggosok telinganya berulang kali. Benarkah apa yang dia dengar. Lalu menutup matanya lalu kembali membukanya. Ini pasti mimpi.

“Oppa! Dengarkan aku…” Ahra bangkit duduk di tepi ranjang rumah sakit lalu menendang kursi yang di duduki Chen membuat namja itu bergelingjang ke belakang.
 “aku…”

“ahya, kau terlihat cocok dengan Suho hyung, Ahra..”

“oppa..”

“bahkan kalian seperti sepasang kekasih”

“oppa!”

“aih. Memang tak seharusnya aku mengganggu yeoja yang sudah mempunyai namjachingu sepertimu.”

“aku mau bicara!”

“ah pantas saja kau selalu marah-marah dan bersikap dingin setiap kali aku mendekatimu!”

Ahra menatap sebal. Dia bangkit berdiri mendekati Chen yang masih saja mengoceh. Sedikit membungkuk untuk mensejajarkan tinggi mereka.



CHU~~



“saranghae!”



Chen membulatkan matanya. Lalu mengusap pipi kanannya. Kemudia menatap Ahra yang memalingkan wajahnya malu. Tersenyum. Lalu mendekap tubuh Ahra hangat.



“nado..”




--------------------------------------------




Akhirnya selesai jugaaa kkkk~~ maaf ngegantung yaaa ;p nggak nggak nggak kuat ngelanjutinnya-_-v
Ide mentok diujung perempatan(?)
thankyouuu buat yg udah mau bacaaaa{}

Wednesday, 13 March 2013

[Oneshoot] A Thousand airplane paper



“A Thousand airplane paper”



Author : Fatma

Main cast : Lee Gikwang as Gikwang
                        Park Soo Ra as Soora    

Sub Cast : Park Seung Rin as Seungrin



Genre : Romantic and sad


Recomended Song :  Beast – Because of you & Taeyeon - Closer 




*Story begin*  




Soo Ra melihatnya, ditengah- tengah kerumunan pejalan kaki. Dibawah derasnya hujan yang mengguyur bumi, seorang namja kurus berdiri sambil menengadah menatap langit. Ia terlihat mencolok, karena ia satu-satunya orang yang tidak menggunakan payung.

Namja itu tampak tak peduli akan tatapan heran orang yang lalu-lalang disekelilingnya, seolah-olah hanya ia yang berada ditempat itu.

Soo Ra hampir ingin menangis melihat mata lelaki itu. Mata yang sendu, sarat akan kepedihan. Soo Ra menghampirinya, memayunginya.

Namja itu mendongak, menatap Soo Ra. Kemudian berlalu begitu saja, meninggalkan Soo Ra  dengan sejuta tanya dalam pikirannya.



***



Soo Ra menatap pohon-pohon dari balik jendela kelasnya, pohon-pohon di sekitar sekolahnya tersebut mulai berbunga, mulai menunjukkan keindahan yang hanya dimiliki oleh negara yang terkenal akan kemajuan tekhnologinya itu.

Sudah sebulan Soo Ra berada di Seoul, ia terpaksa pindah dan meninggalkan Indonesia, tanah kelahirannya, karena appanya dipindah tugaskan ke negara ini.

Sudah tiga hari pula Soo Ra bersekolah di sekolah Anyang Art High School.

Sambil bertopang dagu, Soo Ra kembali mengingat kejadian tiga minggu yang lalu.

Saat ia bertemu dengan Namja misterius bermata sendu.

Soo Ra menghela nafas, bertanya-tanya dalam hati mengapa tatapan Namja itu begitu sendu.“Soo Ra-ssi?” Panggil seseorang menyadarkan Soo Ra. “Ne, Seung Rin?” “kenapa melamun?” Tanya Seung Rin.

Seung Rin merupakan teman pertama Soo Ra di Anyang Art High School. Seung Rin orang Seoul asli, bermata sipit dan berkulit putih seperti orang Seoul kebanyakkan.“Ah, aniyaa Seung Rin-ssi. Hanya sedang berpikir saja.” Jawab Soo Ra dengan bahasa Korea yang pas-pasan.

Seung Rin tersenyum maklum, kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya, menyalin catatan pelajaran kemarin.

Saat Soo Ra hendak mengalihkan pandangannya, Soo Ra menangkap sosok familiar yang akhir-akhir ini sering mengganggu pikirannya. Namja kurus yang menantang hujan itu sedang berjalan masuk kedalam kelasnya. Ia menggunakan seragam yang sama dengannya, menenteng tas, kemudian berjalan melewati Soo Ra yang terbengong-bengong. Ternyata Namja itu duduk dua bangku dibelakang Soo Ra.


***


Lee Gikwang, itulah nama lengkap Namja itu. Ini Soo Ra ketahui dari cerita Seung Rin. Gikwang tidak punya teman, karena ia jarang masuk sekolah. Sepertinya Gikwang sakit, tapi Seung Rin dan teman-teman sekelas tidak ada yang tahu namja itu sakit apa. Gikwang selalu sendirian, baik saat istirahat maupun saat pulang sekolah. Saat istirahat, Ia selalu duduk sendirian dibangkunya, atau berdiri dipinggir jendela sambil menatap pohon-pohon. Karena tidak tahan melihat itu, akhirnya saat pulang sekolah Soo Ra menghampiri meja Gikwang. “Gikwang-ssi.” Panggil Soo Ra, Gikwang mendongak memandang Soo Ra.

Soo Ra makin gugup karena melihat wajah Gikwang yang tanpa ekspresi. “Mungkin kamu tidak ingat aku, tapi kita pernah bertemu sebelumnya. Aku yang memayungimu saat hujan deras beberapa minggu yang lalu.” .
“Aku tidak ingat.” Gikwang berdiri dari duduknya, dan berlalu meninggalkan Soo Ra.
“ tunggu!” Teriak Soo Ra. Sekejap teman-teman sekelas memperhatikan mereka. Gikwang menoleh. Soo Ra menarik nafas dalam-dalam.“Park Soo Ra imnida, ingin berteman denganmu Lee Gikwang”


***


Soo Ra berjuang, untuk bisa dekat dengan Gikwang. Soo Ra tidak tahu apa yang memotivasi dirinya, ia hanya ingin mengusir mendung dimata namja itu.

Gikwang selalu menolak untuk dekat dengan Soo Ra, ia bahkan menepis tangan Soo Ra, saat yeoja itu menyentuh lengannya. Selama berminggu-minggu Soo Ra terus mengajak Gikwang mengobrol, mengajaknya makan bekal bersama dan lain-lain.

Hingga suatu hari Soo Ra tersentak kaget karena bentakkan Gikwang.“Gikwang-ssi, boleh aku makan telur gulung ini? Sepertinya ini enak.” Ujar Soo Ra saat mereka sedang menikmati bekal mereka. 

Gikwang sudah mulai tidak mengusir Soo Ra  lagi saat yeoja itu  mendekatinya. Walaupun Gikwang masih belum mau mengobrol banyak dengan Soo Ra. 

“JANGAN!” Teriak namja itu. Soo Ra melonjak kaget.

“Kamu, aaarrgh!” Gikwang menjambak rambutnya frustasi. “Cukup Soo Ra-ssi!!.” Ujar Gikwang, ini pertama kalinya Gikwang menyebut nama Soo Ra.

“Jangan dekati aku lagi.” Gikwang merapikan bekalnya dan bangkit dari duduknya.“waeyo Gikwang-ssi?” Tanya Soo Ra dengan bibir gemetar. “Kamu menggangguku! Tolong jangan dekati aku.” Bentak Gikwang.

 “Waeyo?” Tanya Soo Ra lagi sambil menahan air mata, seolah ada sejuta mengapa dalam hatinya. Gikwang tak menjawab, ia tetap berjalan meninggalkan Soo Ra. “ Jeongmal saranghaeyo, Gikwang-ssi!!” Teriak Soo Ra. Sejenak Gikwang berhenti, kemudian ia menoleh.

Kembali Soo Ra melihat kesedihan yang mendalam dimata Gikwang. “Kamu akan menyesal mengatakan itu.” Kemudian Gikwang  pun pergi, meninggalkan Soo Ra yang menangis ditempat duduknya.


***


Soo Ra terbelalak kaget saat mendapati Gikwang ada didepan pintu pagar rumahnya. Namja itu terdiam mematung dibawah siraman hujan yang deras.

Soo Ra langsung berlari keluar rumah sambil membawa payung, kemudian memayunginya.“Gikwang-ssi, kenapa kau ada disini? kenapa kau tak bawa payung? Nanti kau sakit.” Namja itu tersenyum pahit. “Aku memang sudah sakit Soo Ra-ssi.” Soo Ra agak kaget mendengar namja itu memanggilnya.

“Apa maksudmu Gikwang-ssi?” Tanya Soo Ra . 

“Aku sakit Soo Ra-ssi, aku terkena kanker otak.” BRUK. Payung Soo Ra terlepas dari genggamannya. Yeoja itu menatap nanar namja  yang ada dihadapannya, siraman hujan membasahi seluruh tubuh Gikwang, matanya redup.“Ba... Bagaimana bisa?” Gikwang memotong kata-kata Soo Ra.

“appaku yang meninggal juga karena terkena kanker otak jadi ini mungkin keturunan.” Soo Ra tak dapat lagi membendung air matanya, kakinya lemas, dadanya sesak, semua terjawab sudah. Semua pertanyaan yang memenuhi kepalanya terjawab karena pengakuan Gikwang. “Sudah kubilang bukan? Bahwa kamu akan menyesal telah menyukaiku?” Gikwang tersenyum, lagi-lagi senyum pahit.

“Gomawo Soo Ra-ssi, karena kamu satu-satunya orang yang memayungiku juga melindungiku dengan kehangatanmu.” Kini Soo Ra dapat melihat Gikwang menangis. Namja itu mengecup lembut pipi Soo Ra.
“Selamat tinggal.” Ujarnya, kemudian Gikwang berlari meninggalkan Soo Ra yang semakin terisak dibawah derasnya hujan


***


Gikwang tidak masuk sekolah, hingga dua minggu berikutnyapun namja itu tetap tidak  masuk sekolah. Soo Ra mencoba mencari tahu kabar Gikwang dengan menghampiri rumahnya. Namun nihil, rumah Gikwang kosong, Soo Ra mendapat kabar dari tetangga Gikwang, bahwa namja itu sedang di rumah sakit, ia akan menjalani operasi tiga hari lagi.

Soo Ra kembali terisak, ia dapat merasakan kepedihan yang dirasakan Gikwang , bagaimana Gikwang harus menjaga diri dengan menjauhi teman-teman sekelasnya karena penyakitnya, bagaimana penderitaannya menahan sakit seorang diri.

Soo Ra tidak tahu bagaimana caranya untuk menolong Gikwang , ia ingin namja itu sembuh, walaupun kecil kemungkinannya. Soo Ra teringat akan dongeng lama yang di ceritakan eommanya, tentang menerbangkan seribu pesawat dari kertas, katanya jika kita menerbangkan seribu pesawat kertas bertuliskan permohonan, permohonannya akan terkabul.

Dan yeoja itu melakukannya, ia membuat origami pesawat kertas tiap harinya, waktunya hanya tinggal tiga hari sampai operasi Gikwang. Sambil membuat seribu pesawat kertas dengan tulisan ‘semoga Lee Gikwang sembuh’ Soo Ra berdoa, ia berdoa disetiap lipatan kertas, ia berdoa disetiap tulisan yang ia buat. Soo Ra semakin yakin bahwa ia tidak menyesal, ia tidak menyesal telah menyukai Gikwang .


***


Dunia menangis, hujan seakan ikut mengantarkan kepergian Gikwang . Dapat Soo Ra lihat  eomma Gikwang terisak disamping nisan putranya itu . Teman-teman sekelas Soo Ra ikut menghadiri pemakaman Gikwang.

Soo Ra berdiri mematung sambil memandangi proses penguburan Gikwang . Seung Rin sedari tadi terus merangkul Soo Ra dan menggenggam erat tangan yeoja itu, seolah memberi kekuatan.

Soo Ra tak sanggup lagi menangis, ia mati rasa. Seribu pesawat kertas yang ia terbangkan tidak dapat membuat Gikwang terus berada disisinya.

Sampai proses penguburan selesai Soo Ra masih tetap tak bergeming, hingga eomma Gikwang  menghampirinya dan memeluknya, kemudian eomma Gikwang memberikan sepucuk surat padanya. Soo Ra membuka surat tersebut, air mata menetes membasahi pipinya.



“Soo Ra-ssi, Gomawo karena kau telah memayungiku hari itu, Gomawo karena kau mau berteman denganku, Gomawo karena keceriaanmu, aku akhirnya berani menjalani operasi, Gomawo karena telah menyayangiku, Mianhae ne Soo Ra-ssi, karena telah membentakmu, mengusirmu dari hidupku. Mianhae karena ternyata aku tidak bisa menahan diri, dan dengan lancang telah menyukaimu sejak kau memayungiku dulu. Tetaplah menjadi Park Soo Ra-ku  yang ceria, yang selalu menghangatkanku biarpun dinginnya hujan menusuk hingga tulangku. Jeongmal Saranghaeyo Park Soo Ra..”





THE END